Forum Warga

Menjadi Petani Yang Mandiri

E-mail Print PDF
"Sebagai Petani, saya juga ingin mandiri. Ingin lepas dari bayang-bayang pemerintah. Ingin lepas dari masalah tidak jelasnya harga pupuk yang katanya bersubsidi itu. Oleh karena itulah kami kelompok tani Bina Sari Alam (BSA) menggunakan pupuk organik yang kami buat sendiri untuk tanaman kami. Bahkan termasuk mikroba-nya pun kami buat sendiri dari fermentasi nasi. Setiap sampah daun yang tercecer adalah lembaran-lembaran berharga yang kami kumpulkan tiap harinya untuk di olah menjadi kompos. Alhamdulillah sekarang kami sudah mandiri dari segi kebutuhan pupuk. Bahkan jika pun pemerintah memberikan subsidi pupuk kimia, kami akan menolaknya. Kami tidak mau merusak kembali tanah-tanah kami dengan pupuk kimia. Tiga tahun memperbaiki struktur tanah adalah tahap-tahap yang tidak sederhana. Sekarang kami sudah tenang, tidak lagi harus berkejaran mencari pupuk. Kenaikan dan kesulitan mendapatkan pupuk  tidak ada lagi dalam kamus kami”. (Hadzik, ketua kelompok tani Bina Sari Alam Cipari - Cilacap).
  "Padi-padi yang di hasilkan dari tanah yang menggunakan pupuk organik lebih tahan lama jika dimasak, tidak mudah basi. Bahkan sekarang kami bisa mempertahankan harga jika para tengkulak membeli padi kami. Karena mereka tahu, kualitasnya jelas lebih unggul dan lebih banyak menghasilkan beras jika di giling. Tanaman terong saya bahkan buahnya betul-betul super setelah murni menggunakan pupuk organik. Pupuk Organik, di samping gratis karena bahannya tersedia di alam juga kualitas hasil panennya lebih bermutu". (Yono, salah seorang anggota kelompok tani Bina Sari Alam).

 Kisah dua petani diatas adalah kisah bagaimana kesadaran ekologi terbentuk. Walaupun kesadaran tersebut terbentuk karena keterdesakan ekonomi, namun pengalaman mengajarkan bahwa alam memang tak sepantasnya di eksploitasi. Pengalaman mengajarkan bahwa tak sepantasnya petani bergantung pada pemerintah, seperti yang terjadi belakangan ini. Menggunakan produk alam sebagai makanan tanaman mereka, sudah ada sejak jaman nenek moyang. Nenek moyangku bukan hanya seorang pelaut, tapi juga seorang petani.

Realitas bagaimana petani dikuasai oleh para pemodal pupuk kimia sudah jamak kita lihat di negeri ini. Harga pupuk melambung, sedangkan harga produk pertanian sangat rendah. Terpinggirkan oleh produk luar negeri (lihat buah-buah yang dijual di otlet, kebanyakan adalah produk luar), sementara kesadaran petani di paksa untuk terus menggunakan pupuk kimia atas nama program intensifikasi pertanian jaman Orde Baru.

Kita tentu masih ingat bagaimana revolusi hijau di gaung-kan pada tahun 1970-an di jaman Soeharto. Melalui penyuluhan-penyuluhan pertanian yang di ejawantahkan dalam Panca Usaha Tani, revolusi hijau sukses menanamkan nilai di setiap benak petani-petani kita. Bahkan sampai sekarang. Revolusi Hijau  mendasarkan diri pada tiga pilar: penyediaan air melalui sistem irigasi, pemakaian pupuk kimia dan penerapan pestisida untuk menjamin produksi, dan penggunaan varietas unggul sebagai bahan baku.

Namun program revolusi hijau—tanpa disadari awalnya—justru telah merusak lingkungan dan juga membentuk ketergantungan petani dan tanah akan pupuk kimia dan pestisida. Satu hal yang menguntungkan pemodal-pemodal besar. Gerakan pemodal selalu sama yakni membentuk ketergantungan, kemudian mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari ketergantungan tersebut. Mereka menggunakan negara, menanamkan nilai melalui negara sebagai penanda utama gerakan pengetahuan. Pengetahuan yang tidak murni pengetahuan, melainkan di sisipi dengan niat menjual produk yang di bawanya. Menjual pupuk kimia, menjual pestisida, menjual bibit yang "katanya" unggul. Kita patut bertanya, kepada siapa negara ini berpihak. Kepada rakyat? atau kepada pemodal besar? ... selengkapnya
Comments
Search
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Last Updated ( Friday, 21 May 2010 11:59 )  

Kirim Berita

Pilihan Bahasa

English French German Italian Portuguese Russian Spanish

Survei

Apa Pendapat Anda tentang Kinerja Penanganan Korban Gempa Bumi (2/9/2009) oleh Pemkab Cilacap?
 

RSS

You are here: